Memudarnya Pamor Sang Pendekar
“ Dulu saya ini sabuk hitam lho, bahkan dulu ujiannya di luar negeri,” ungkap seorang teman. Dahi saat mengernyit mencari kebenaran dari kata-katanya. Cukup sulit bagi saya percaya dengan ucapannya karena kondisi fisiknya sudah sangat tidak ideal, over weight habis serta terlihat tidak prima. Seorang teman lain mengatakan dulu dia juara nasional sebuah cabang beladiri. Tapi sekarang kondisinya jauh dari ideal, bahkan untuk diajak sekedar lari saja sudah tidak sanggup. Padahal ketika muda, jangankan hanya lari, latihan berjam-jam pun tidak menjadi masalah.
Kondisi diatas merupakan realita yang cukup banyak terjadi, seseorang yang ketika muda rajin belajar beladiri bahkan tidak jarang sudah bergelar pendekar, black belt, badur, mempunyai prestasi yang dibanggakan tetapi ketika usia semakin menanjak seakan semua ilmu yang dipelajari hilang tak berbekas. Cukup tragis. Investasi berupa fisik, waktu dan dana yang tidak sedikit seakan hilang bagaikan investasi yang tidak menghasilkan profit jangka panjang. Padahal idealnya sesuatu yang dilakukan masa muda merupakan investasi yang dapat berbuah dimasa kemudian, baik dunia maupun akherat.
Mengapa kok bisa begitu? Kondisi ini membuat rasa penasaran cukup mengganjal dalam hati. Cukup beragam alasan yang diutarakan. Beberapa dari mereka mengatakan sudah bosan, jenuh, sibuk mencari nafkah dan lain sebagainya. Intinya adalah bahwa ilmu beladiri tidak dianggap prioritas atau hanya sekedar selingan.
Kondisi lain tetapi mirip dengan kondisi diatas adalah adanya seorang pendekar, sabuk hitam yang kemampuannya tidak sesuai dengan standar pada tingkatannya. Meminjam istilah dari sebuah grup diskusi beladiri, kondisi ini diberi istilah Memutihnya Sabuk Hitam atau Memudarnya Pamor Pendekar. Seseorang yang menyandang gelar pendekar atau badur dalam istilah Thifan Po Khan, idealnya adalah mempunyai kemampuan yang sudah mumpuni dibandingkan dengan tingkat sebelumnya. Tetapi beberapa kondisi terkadang tidak sesuai kondisi ideal, seorang pendekar atau pemegang sabuk hitam mempunyai kualitas seperti sabuk putih atau murid pada tingkat awal. Penyebab masalah ini hampir sama dengan alasan kelompok pada kelompok yang meninggalkan beladiri secara total, bedanya adalah mereka masih tetap dalam lingkaran beladirinya, tetapi sudah tidak optimal dalam berlatih. Kondisi ini menyebabkan kemampuannya mengalami penurunan secara gradual, perlahan tapi pasti kemampuannya semakin menurun tanpa disadari atau disadari.
Kondisi diatas adalah realita yang sering terjadi dalam beladiri, dan tidak menutup kemungkinan kondisi tersebut akan menimpa kepada para tamid Thifan Po Khan. Semangat yang awalnya memuncak, bisa dengan mudah pudar dengan beragam alasan. Ibarat sebuah pohon, mungkin saja pohon ini akan layu sebelum berkembang atau mampu bertahan dari segala macam rintangan sehingga mampu menjadi pohon yang mampu memberikan manfaat kebaikan, baik untuk diri sendiri, keluarga dan ummat manusia.
Bagaimana caranya? Sekedar sharing dari pengalaman maka ada beberapa hal penting yang dapat kita jaga agar semangat mendalami beladiri khususnya Thifan Po Khan akan terus terpatri di dalam hati yang terdalam, bergerak bersama ayunan tangan dan langkah-langkah kaki.
Pertama. Menguatkan niat. Hadits tentang pentingnya niat dalam beribadah menjadi hal yang sangat fundamental. Ketika berlatih Thifan diniatkan sebagai ibadah maka kita yakin bahwa Allah akan mencatat setiap langkah kita ketika berlatih adalah amal sholeh. Bahkan lebih dari Allah hal ini akan mempermudah jalan bagi kita untuk menuju surga seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya :
“ Siapa yang menempuh suatu perjalanan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memberikan kemudahan menuju surga.” (HR. Muslim)
Kedua. Meyakinkan dalam hati bahwa tujuan kita untuk menjadikan beladiri Thifan Po Khan ini sebagai sarana amar ma’ruf nahi mungkar yang menjadi syarat untuk mewujudkan janji Allah sebagai ummat yang terbaik seperti yang disebutkan Allah dalam surat Ali Imran ayat 110 yang artinya :
“ Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang baik, mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran : 110)
Kedua hal tersebut selama ini cukup menjadi faktor yang menguatkan untuk berusaha istiqomah untuk mempelajari dan menyebarkan ilmu Thifan yang merupakan wakaf dari ummat Islam sebelumnya agar dapat diterima manfaatnya oleh mauquf’alaih (menerima manfaat) ilmu ini. Insya Allah dengan keyakinan dan keistiqomahan, kita akan mendapatkan manfaat yang besar baik dunia berupa kesehatan, kekuatan serta manfaat akherat berupa balasan kebaikan yang abadi yaitu surga. (hb)
Rasulullah saw bersabda : “ Katakanlah : Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah kamu.”
(HR Muslim)
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki- laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An Nahl :97)
Visitors :33559 Org
Hits : 102617 hits
Month : 1698 Users